
Beberapa hari yang lalu, saya dapat sms bagus dari teman akhwat.
” Istri Sholihah setia pada suaminya, bahkan sebelum mereka bertemu, ia menjaga kehormatannya, tak memperlihatkan auratnya, tak mau disentuh laki-laki yang bukan muhrimnya, tak membagi cinta dan perhatian untuk laki-laki yang belum tentu jadi suaminya, . Semua ia persiapkan untuk mneyambut kehadiran pangerannya, tempatnya kelak membagi cita dan asa. Calon istri sholihah, lagi baca smsq ya,,keep istiqomah.”
Makasih ukhti Nunuk, yang selalu memberi nasehat terbaik buatku,,
Merenungi kalimat sejuk itu, melahirkan kesimpulan-kesimpulan yg menggetarkan. Ah, siapa yg tak punya harap untuk membersamai pendamping hidup yang menjaga kemuliaan diri?
Apakah masih ada orang yang berotak eror sehingga mencari wanita ‘hina’?
Kebaikan berjodoh dengan kebaikan, orang-orang yang baik berjodoh dengan orang-orang yang baik, keburukan berdampingan dengan keburukan, ini sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan.
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (An-Nur: 3).
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An-Nur: 26).
Dalam sejarah pernikahan kita melihat orang yang paling shalih Muhammad saw, para pendampingnya adalah para wanita shalihah, kita melihat putri-putri beliau yang shalihah berjodoh dengan para suami yang shalih pula, para sahabat-sahabat beliau yang shalih beristri wanita-wanita yang sepadan dan selevel dengan mereka dan begitu seterusnya. Maka jika Anda berhasrat memperoleh pasangan yang shalih, shalihkan diri Anda agar hasrat Anda ini terwujud sehingga Anda tidak menggantang asap, layaknya pungguk merindukan rembulan.
…
Inilah keadilan dan kebijaksanaan, dua perkara yang sejenis tersatukan, dua hal yang sepadan terkumpul dan dua orang yang shalih dipertemukan. Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)






