Renungan

images

Sahabat,

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000,00 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah SWT selama lima belas menit, namun betapa singkatnya kalau dipakai untuk melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun sering orang mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Kitab Suci tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di shaf paling belakang ketika berada di Rumah Ibadah

Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama beberapa hari ketika berpuasa .

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk berdoa; namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Kitab Suci; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.

Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat waktu beribadah.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.

Sukses Sejati

akhirat2

Menurut kalian apa sih sukses itu?

Kalau kapitalisme menganggap persaingan bebas sebagai media paling cocok untuk menggapai kesuksesan bagi kehidupan sekarang ini, kalau materialisme menganggap kekayaan materi sebagai simbol kesuksesan manusia di zaman ini, kalau hedonisme menganggap kehidupan glamor, mewah, dan hura-hura sebagai hasil dari kesuksesan, maka dengan bangga saya menyebut hanya muslim yang memiliki pemikiran paling visioner dan sejati. Perspektifnya jauh berbeda daripada yang lain.

Kalau saya menjual bakso, satu mangkuknya saya jual tiga ribu rupiah. Kemudian ada pembeli yang menawar, maka dengan tegas saya akan katakan:”Kalau saya jual bakso ini tiga ribu lima ratus rupiah, Anda yang rugi. Kalau saya jual dua ribu lima ratus rupiah, saya yang rugi. Harga tiga ribu rupiah ini sudah pas Pak. Harga ini sudah islami, tidak lebih tidak kurang.”

Tapi ketika pembeli tadi menjelaskan bahwa ia butuh membeli bakso dalam jumlah banyak untuk suatu pertemuan dengan kawan-kawannya, padahal uangnya tidak cukup, maka saya akan menjawab:”kalau Anda hanya punya dua ribu lima ratus rupiah untuk semangkuk bakso, ya, tidak apa-apa, saya rela. Tapi harganya tetap tiga ribu rupiah.”. Mungkin pembeli itu akan bingung,”Lho maksudnya bagaimana Pak?” Saya akan menjelaskan:”Kekurangan Bapak yang lima ratus rupiah itu adalah keuntungan saya di akhirat nanti.”.

….

Nampak sangat mendasar bukan?. Dalam kapitalisme sekuler, apa yang saya alami itu jelas suatu kerugian.tapi dalam model perniagaan islam yang sudut pandangnya dunia akhirat, itu merupakan suatu keuntungan. Saya telah falah, juga fa’iz, bahkan kemenangan dan keuntungan saya dari pengorbanan lima ratus rupiah itu tidak hanya saya nikmati setelah saya ke akhirat, tapi di dunia saya yakin ada pertolongan Allah yang justru berlipat, 700 kali lipat dari 500 yang saya korbankan tadi.

….

“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah” QS. Huud:11

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.